Berlatih menggunakan kalimat preventif by Ayah Edy Menjawab

Sudah sering banget bilang ke za tiap kali sengaja numpahin air ke lantai dengan ucapan begini ; “jangan lari, nanti jatuh”, dan pada akhirnya jatuh!

Ya, saya seperti mendoakan za untuk benar benar jatuh 😁, padahal emak mana sih yang mau doakan anaknya yang jelek jelek apalagi urusan jatuh lalu kepala kebentur lantai duhduduhduhduh … Mending emak aja deh yang gantian ngerasain sakitnya.

Sore ini menunggu za yang masih tertidur pulas (karena emaknya yang pengen tidur, digangguin si bocah, giliran bocah udah molor, ashar pun berkumandang 😌), sambil membuka buku lama kembali ; “Ayah Edy Menjawab”. Yap seakan akan menjawab pertanyaan saya selama ini, pendekatan seperti apa yang baiknya saya ganti agar za tidak harus terjatuh berkali kali karena omongan saya! Dan akhirnya saya pun mendapatkan jawaban dari kegalauan saya selama ini #tsaaahh

Dalam buku Ayah Edy Menjawab, “Jangan lari nanti jatuh” merupakan kalimat dengan menggunakan teknik pendekatan kuratif yang menekankan hasil akhir. Teknik ini tentu saja kurang tepat karena yang akan terasa adalah seringnya yang benar benar terjadi.

Alam bawah sadar manusia kurang mampu merespon dengan cepat kata “jangan”. Selain itu yang didengar oleh anak adalah kata terakhir, saat kita mengatakan “jangan berlari”, maka yang terekam di alam bawah sadarnya adalah “berlari”, refleknya adalah bergerak.

Sehingga yang perlu kita lakukan adalah dengan menggunakan kalimat pendekatan preventif, supaya anak tidak terjatuh, dan anak seharusnya berhati hati. Pemilihan kata seperti apa sih? “Hati hati”, “berhenti”, “diam di tempat”, “stop”, “pelan pelan” .

“Jangan lari” diganti dengan kalimat “berjalan lah pelan pelan yah nak”

“Jangan malas” diganti dengan kalimat “kamu kan anak rajin, ayo dilanjutkan buat pr nya sayang”

“Jangan nakal” diganti dengan kalimat “anak baik dan patuh”

Dengan menggunakan hal hal positif seperti itu, maka yang akan terekam di alam bawah sadar anak adalah rajin, baik dan patuh, sehingga yang tergambar dalam benak dirinya adalah “aku anak rajin, anak baik, anak yang patuh”.

Sekian


*Ditulis dengan tidak mengedit tulisan asli dengan jauh berbeda*

Cabe, memasak, otodidak dan bisa

Sebelum benar benar turun tangan dalam mengerjakan urusan domestik, apalagi dalam soal memasak. Saya adalah tipe orang yang malaass sekali jika harus berdekatan dengan dunia dapur. Bukannya kenapa yah 😁, untuk soal bersih2 rumah, nyapu ngepel itu adalah pekerjaan nomor satu bagi saya. Tapi untuk urusan masak, ah sudahlah .. Saya lebih baik tinggal beli di luar dan makan sesuka hati. Ternyata oh ternyata karena sebenarnya saya ini takut sekali dengan yang namanya cabe. Kenapa takut cabe? Karena dulu saya punya pengalaman traumatis kali yah sama si cabe merah ini waktu masih kecil. Setiap kali jika harus dihadapkan dengan urusan masak, maka saya butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya, karena harus bolak balik mencuci tangan setelah memegang cabe haha … Sungguh saya harus menghabiskan waktu hanya agar tangan saya tidak kepedesan. Lama kelamaan membuat saya jadi malas, maka jadilah saya tumbuh menjadi seorang perempuan yang sama sekali buta dengan yang namanya bumbu bumbu dapur, karena cabe berhasil menjauhkan saya dari dunia dapur.. Hihi pissss cabe βœŒπŸ»πŸ˜„

Menjadi ibu rumah tangga, resign dari pekerjaan, membuat hidup saya berubah, yang tadinya takut memegang cabe dan tak ingin memasak sama sekali, akhirnya membuat saya mau tidak mau harus terjun langsung untuk urusan satu ini.

Awalnya pasti tidak mudah, ya sangat tidak mudah. Saya seperti seorang perempuan yang memiliki gangguan obsesive compulsive karena berkali kali mencuci tangan setiap kali selesai memegang cabe.. Wkwk ..

Tapiii seiring berjalannya waktu, tiap kali memegang nya, mengirisnya bahkan memakannya (after dimasak tapi yah hehe), ajaibnya saya tidak kenapa kenapa loh πŸ˜‡ .. Yaiyalah blm ada kasus juga mungkin cabe si pembunuh manusia karena terlalu sering memegang nya saat masak πŸ˜†. Dan pada akhirnya saya pun mampu bersahabat dengan trauma saya, yeeaaay .. Maka selama kurang lebih setahun saya pun mendokumentasikan masakan masakan saya yang belum tentu rasanya ini, kadang enak kadang enggak, kadang berhasil kadang gagal, yang terpenting bagi saya ada kepuasan disana saat saya mencoba.

Ya saya memang otodidak dalam hal memasak, dan saya bahagia disaat orang terdekat saya memakannya dan mengatakan bahwa masakan saya uenak 😍… (Keknya karena takut diomelin aja deh πŸ™ˆ) , terlebih jika bisa menjadi koki handal untuk keluarga, dan koki banggaan keluarga apalagi untuk pasangan dan anak saya kelak 😚.

-sekian-

Ikan pindang goreng dengan bumbu sambal goreng + santan

Saya gak tahu mau memberi nama untuk masakan pindang saya kali ini. Bosan dengan racikan resep yang begitu begitu saja, akhirnya Googling dengan sedikit variasi.

Whatever namanya yang penting di lidah terasa enak yah οΌ―(β‰§βˆ‡β‰¦)οΌ―.

Untuk bahan dan cara memasaknya sebagai berikut :

🐠 pindang cue tiga keranjang. Karena ikannya kecil kecil jd dalam satu keranjang ada tiga ikan.

🐠 bawang merah 5 siung

🐠 baput 3 siung

🐠 santan kara yang sudah dicampur air 200ml

🐠 tomat dibelah 4 bagian

🐠 kemiri satu buah

🐠 cabe merah (optional)

🐠 minyak goreng

🐠 daun salam

🐠 gula, garam

Cara membuatnya :

🍲 goreng bamer, baput, kemiri, dan tomat lalu haluskan

🍲 goreng ikan pindang jangan kelamaan karena takut keras, sisihkan

🍲 setelah bumbu dhaluskan, maka tumis kembali dengan minyak secukupnya

🍲 masukkan daun salam, ikan pindang, lalu tuang santan kara

🍲 tambahkan gula dan garam

🍲 tunggu sampai air menyusut, dan angkat

Ikan pindang hangat siap disajikan ..

Meminimalisir gadget untuk za

Setiap hari adalah tantangan untuk emak rumahan seperti saya yang ingin menjauhkan anak dari gadget. Gadget atau Gawai entah bisa menjadi teman, atau pengasuh setia seorang anak saat emak sedang melaksanakan kegiatan domestiknya. Seakan akan gadget lah yang benar benar mengerti diri sang anak.

Berhasilnya gadget membuat anak untuk tunduk, diam, tidak bergeming, melotot serius ke layar menjadikan segala kegiatan emak pun berjalan lancar.

Tadinya cara ini sangat efektif untuk anak saya. Pekerjaan memasak saya bisa beres tanpa ada gangguan gangguan dari si kecil. Tapi lama kelamaan saya merasa sedih (takut kalau besarnya nanti si za tumbuh menjadi anak yang kurang dekat dengan ke dua orang tuanya, kurang interaktif dan ketakutan ketakukan lainnya), maka gadget sebagai pengasuh pun saya tinggal.

Repot pastinya. Sangat .. Sangaaat repot. Saat saya sedang memasak datanglah ia meminta untuk diperhatikan. Apa saja .. Entah ingin ditemani bermain, atau hanya sekedar makan jagung (ya, za minta jagung nya untuk dipipilin, padahal biasanya juga bisa makan sendiri –“). Kalau sudah bolak balik ke dapur, biasanya senjata saya adalah menyiapkan cemilan yang banyak untuknya. Entah itu Yakult (karena za sangat senang dengan Yakult), sereal, buah ; sampai eneg pun dengan buah za tidak mau lagi (macam buah naga, jeruk, pir -_-“). Emak kehabisan cara dong? Iya.. karena lama kelamaan za mulai bosan dengan mainannya. Lagi dia bolak balik ke dapur. Membuka tutup kulkas, menumpahkan isi kecap, bermain selang gas dengan menggoyang goyangkannya (ngeri deh ngerii banget), membuang bumbu bumbu dapur milik emaknya (kasian banget si emak), menumpahkan air (kalau begini saya juga harus nyambi segera ngepel agar dese gak jatuh karena licin), membawa peralatan dapur seperti panci ke luar ruangan -_-” .. Dan banyak lagi …

Ini hanya baru hitungan dua minggu saya menerapkan no gadget dalam keseharian za. Walau masih belum disiplin seperti terkadang harus menyisipkan nonton video billy dan bambam saat za benar2 susah untuk diajak koordinasi. Misalnya seperti saat saya ingin melaksanakan sholat.

Saya hanya ingin agar kelak za tumbuh besar menjadi anak yang mudah diatur, gampang berinteraksi dengan ke dua orang tuanya, dan tak ada gap. Karena percaya saat di jamannya ia masih kecil, ia telah memperoleh pola asuh terbaik dalam kesehariannya. Walaupun terkadang saya berpikir, di usia kanak kanak saya, saya sangaaat senang dengan dunia kartun, nonton bersama saudara sepupu bisa menjadi keseharian kami di tiap weekend, semisal menonton doraemon, sailormoon, ninja hatori dan banyak kartun lainnya. Saat saya sekolah dasar, saya kemudian mengenal telletubies, bahagia sekali hati saya saat pulang ke rumah menemukan acara kesukaan saya telah tayang, seperti bayaran atas sekolah hari itu, lelah, panas, haus menjadi hilang begitu sampai di home sweet home.

Nah saya pun ingin sekali za bisa menyimpan memori menyenangkan spt itu. Saya yang tidak bergantung dengan tv dulunya, membuat saya tidak terlalu mempermasalahkan untuk nonton tv. Bagaimana caranya? Baiklah tidak perlu membandingkan kehidupan saya sbg emak dengan kehidupan za saat ini karena setiap anak bukankah harusnya dididik sesuai jamannya? Jaman za adalah zaman era digital yang apapun itu dapat diakses dengan mudah, jika tidak difilter, tidak dibatasi bisa bablas, bisa membuatnya menjadi anak produk gagal di jaman nya. Biarlah za tumbuh dengan tanpa gadget sampai akhirnya ia paham, apa fungsi dari gadget itu sebenarnya.

Besok, kita nyanyi nyanyi dengan video di youtube yang sudah emak unduh ya dek hihi (kalau soal yang ini, saya masih woles ✌🏻)

Sekian curhat kali ini, emak mau sholat, bocah lg ee (daan inilah realnya dunia emak, but i’m happy 😎)

Pengalaman Pertama di IIP

Sambil menunggu therapist yang sedang mengerjai rambut saya (karena ceritanya saat saya menuliskan ini, saya sedang berada di salon alias me time dari kesibukan saya sebagai stay at home mom πŸ˜„.
Saya ingin berbagi pengalaman bagaimana awalnya saya bergabung dalam komunitas ini ;πŸ‘‰πŸ»Institut Ibu Profesional. Diawali dengan kepindahan saya ke cikarang di bulan agustus. Perasaan sebagai stay at home mom semakin terasa jenuh setelah resignnya saya sejak maret 2017. Berarti kurleb 5 bulan merasakan kejenuhan tidak melakukan apa apa selain benar benar mengasuh anak dirumah dan melaksanakan kewajiban sebagai IRT tanpa diselingi kesibukan apapun (misal ikut sebuah komunitas). Berarti usia za saat itu juga kurleb adalah 9 bulan. Melihat postingan beberapa teman saya di FB atau IG. Saya mulai tertarik untuk mengetahui IIP lebih dalam lagi. Sehingga saat mulai merasa klik akhirnya di bulan september 2017 pun saya mulai membuka situsnya dan mendaftarkan diri di Web IIP.

Awalnya saya merasa agak down karena pendaftaran IIP yang tidak dibuka setiap bulan, melainkan ada jangka waktu tersendiri (4x dalam setahun kalau tidak salah). Downnya takut karena tidak dapat seat di dalamnya πŸ˜€. Sehingga saya harus menunggu jeda beberapa bulan, dan tanggal 24 oktober 2017 pun saya diinvite ke dalam group foundation.

Oiya mungkin saya ingin menjelaskan terlebih dahulu apa yang saya ketahui tentang IIP. Institut Ibu Profesional atau yang disingkat dengan sebutan IIP merupakan komunitas para Ibu ibu yang ingin meningkatkan kualitas dirinya baik sebagai ibu/istri/perempuan single. Terdapat 43 WAG IIP wilayah yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, Asean, non Asean. Dalam IIP ini terdapat beberapa tahapan belajar. Yaitu ; Kelas Matrikulasi, Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Profesional, dan Bunda Sholehah. Cara belajarnya pun seperti kuliah online dengan memakai fasilitas WhatsApp dan juga Google Classroom. Wisuda dalam perkuliahan ini? Yap ada!. Yang pasti jika berhasil melewati perkuliahan selama 9 pekan dengan mengerjakan Peer di setiap pekan nya.
Nah kembali ke awal bagaimana saya diinvite masuk ke dalam Group Foundation. Group Foundation merupakan wadah atau tempat menampung para peserta sebelum dipecah dalam kelas matrikulasi. Di group ini kita akan lebih banyak mengenal satu sama lain dari 200 lebih peserta, mengenal lebih dekat apa itu Institut Ibu profesional, dan tentu saja tidak sebagai group obrolan biasa, karena dalam group ini terdapat aturan main untuk semua peserta, seperti ; tidak berbicara tentang politik, kritik untuk pemerintah, tidak mempertajam perbedaan SARAT (Suku Agama Ras dan anggota Tubuh), tidak berbicara tentang khilafiyah dan fitnah yang berujung dengan kesalahpahaman, atau pun ghibah (membicarakan aib orangain) karena ghibah sama dengan memakan bangkai saudara sendiri (lah kenapa jadi nyambungnya ke sini πŸ˜…).

Tidak hanya itu, terdapat aturan dalam memposting suatu informasi atau berita di kelas WAG IIP Foundation, sehingga setiap peserta wajib bertanggung jawab untuk setiap apa yang dipostingnya, misal harus jelas sumber postingan itu dari mana, hal ini juga bertujuan untuk menghindari ‘asal posting’. Jika memang ragu dengan isi postingan tersebut, lebih baik untuk tidak mengsharenya sama sekali. Untuk Gadget Time ; free every sunday, memiliki jamal bergadget di Group Foundation hingga pukul 22.00, dan dilarang keras beriklan (soft selling apalagi hard selling).

Itulah sedikit penjelasan mengenai IIP dan kelas foundation yang saya tahu dan rasakan selama beberapa bulan tersebut, hingga akhirnya pada tanggal 22 Desember 2017 kembali kelas matrikulasi IIP untuk batch ke 5 dibuka. Informasi ini peserta dapatkan dalam kelas foundation. Dan untuk mengaksesnya adalah kami diminta untuk mengisi kembali form pendaftaran dengan alamat web ; http://bit.ly/DaftarMatrikulasiB5Reguler. Setelah membayar investasi sebesar 100rb dg cara transfer ke rekening Founder IIP Ibu Septi Peni Wulandani (investasi ini adalah sebagai salah satu syarat menjadi anggota IIP), mengcapture hasil transfer dan disisipkan ke dalam form pendaftaran yang telah diisi, maka peserta tinggal menunggu hasil rekapan peserta yang telah kembali mendaftar dalam kelas matrikulasi.
Dan alhamdulillah setelah pengecekan salah satu peserta IIP kelas Foundation, ditemukanlah nama saya. Yeeeaayy …

Nama saya berderet dengan manisnya bersama nama nama lainnya, silahkan diperhatikan urutan ke dua paling bawah hihi . Dan Tanggal 11 januari 2018 pun, akhirnya saya diinvite masuk ke dalam kelas Matrikulasi IIP5 bekasi 4, bersama 50an peserta lainnya, dengan salah satu fasilitator bernama Mba Savira Mega.

Mengawali kelas ini pada tanggal 12 januari 2018 cukup dengan membina suasana terlebih dahulu, mba savira selaku fasil pun memberikan project awal kepada peserta untuk membuat buku kelas yang mampu mengakomodasi dan menyimpan profil para ibu2 peserta MIIP5 Bekasi 4. Dan setujulah kami untuk menggunakan ebook dengan PIC Ibu Dwi Nur Kusumawati karena satusatunya yang memiliki background sebagai IT adalah beliau hehe. Dilanjutkan dengan penyampaian rule kelas, coc komunitas, pembentukan pejabat kelas, teknis pengumpulan NHW, dan tutorial google class room yang dilaksanakan dari tanggal 15 januari hingga 19 januari 2018.

Saya jelaskan satu satu mengenai hal di atas yah, yang penting pentingnya saja πŸ˜„;

– Penyampaian rule kelas : tidak berbeda dengan penyampaian rule di kelas foundation, terdapat etika selama berada di dalam kelas matrikulasi. Sehingga untuk peraturan ini peserta masih familiar dengan penyampaian rule termasuk saya sendiri hoho.

– COC dalam bahasa indonesia dapat diartikan sebagai pedoman perilaku bermartabat, yaitu beberapa peraturan yang dibuat, dan disepakati hingga menjadi komitmen bersama. Tujuannya adalah untuk memiliki perilaku yang bermartabat sebagai peserta IIP. Di dalam kelas ini tidak diperkenankan untuk menjadi peserta yang pasif. Melainkan aktif dalam diskusi online maupun offline. Artinya tidak diperkenankan menjadi silent reader, dan pada saat ada agenda bersama seperti kopdar, rumbel, peserta diwajibkan untuk memberikan kabar jika memang berhalangan untuk hadir.
Jika 2x sesi peserta tidak aktif (‘menghilang’) tanpa kabar, maka dengan berat hati harus dikeluarkan. Jika ada halangan, musibah, atau bencana, bisa dikomunikasikan ke ketua kelas dan fasil untuk mendapatkan keringanan.

Peserta pun juga diminta untuk bisa aktif. Aktif ini bisa banyak bentuknya. Merespon pemateri, memberikan pertanyaan, berbagi pengalaman yg masih berhubungan dengan materi, dll. Intinya tidak hanya duduk diam mendengarkan, tapi juga ada _action_ dari peserta.

Nah lanjut untuk jadwal harian dan pekanan kami di kelas (masih dengan penjelasan dari Mba Savira selaku fasilitator kelas) ;
➑*Penyampaian materi di GC* oleh Fasil pukul 05.00 pagi (mungkin bisa lebih pagi atau agak siang tergantung kondisi dapur). Sedangkan *Penyampaian materi di WAG pukul 09.00 pagi*. Dengan begitu, teman2 di kelas masih bisa membaca materi dari pagi tanpa harus membuka wag. Pukul 09.00 ini mba Savira akan tetap mengalokasikan waktu, jika saat itu waktu memungkinkan untuk diskusi, maka bisa lanjut diskusi. Namun jika tidak, tetap hanya share materi saja.
➑ *No chat* β›” *jam 09.00-12.00**
*dengan tujuan agar materi tidak tenggelam
➑ *Open chat* β­• *jam 12.00-15.00* untuk *diskusi bebas antar member**
*rentang waktu diskusi 3 jam ini untuk menyesuaikan kondisi bagi ibu bekerja di ranah publik dan domestik dengan mensiasati waktu bergadget πŸ˜‰
***_Kalau harus manjat ratusan chats?_
Ini adalah resiko yg harus kita terima saat mengikuti perkuliahan secara online. Insyaa Allah lama2 akan terbiasa. πŸ˜†
➑ *Diskusi bersama fasil jam 20.00-21.00*
Dalam rentang waktu ini kami diMohon untuk dapat mengondisikan diri dan keluarga. Mengingat ini juga hanya dilakukan seminggu 2x (diskusi materi dan review NHW). πŸ™‚
Berikut saya lampirkan jadwal pekanan kami ⬇ ;
πŸ“… *JADWAL PEKANAN KELAS MATRIKULASI IIP Batch #5*

πŸ€πŸ—“ *SENIN*
πŸ“š Penyampaian Review dan Diskusi NHW
⚠ Deadline pengumpulan NHW, pukul 10.00 WIB.

*_Note : Khusus Senin pekan pertama Penyampaian Materi Adab Menuntut Ilmu dan diskusi_*

πŸ€πŸ—“ *SELASA*
πŸ“š Penyampaian Materi dan diskusi.

πŸ€πŸ—“ *RABU*
πŸ’Œ Pemberian NHW
β˜• Cemilan

πŸ€πŸ—“ *SABTU* : GFoS πŸ“΅

πŸ€πŸ—“ *MINGGU* : GFoS πŸ“΅

Lalu bagaimana dengan teknis pengumpulan NHW itu sendiri?
Teknis pengumpulan NHW (Nice Home Work) adalah dengan mengumpulkannya melalui GC (Google Class Room), jika ada yang berhalangan untuk mengapload tugas di GC, maka peserta dapat meminta bantuan kepada perangkat kelas. (Duh, perangkat kelas apa lagi sih?). Perangkat kelas ini terdiri dari Fasilitator dan Korming alias Koordinator Mingguan, jadi setiap minggu akan ada koordinator yang tugasnya membantu atau memfasilitasi para peserta, misalnya saat terkendala mengumpulkan tugas, sewaktu waktu bisa menjadi moderator Sesi MLD (Mengenal Lebih Dekat para Pengurus IIP Pusat yang bisa dilakukan secara berkala per pekan), pengingat (alarm) untuk peserta mengumpulkan tugas, mendata para peserta yang telah berhasil mengumpulkan tugas, membuat resume pertanyaan materi atau pun sesi lain seperti MLD (Mengenal Lebih Dekat), bukan hanya ada korming tetapi juga ada ketua kelas nya. Dalam kelas Matrikulasi Bacth 5 Bekasi 4 diketuai oleh Mba Widya. Sedangkan pembentukan pejabat kelas ini dilakukan saat perkenalan di awal.
Nah segini dulu cerita pengalaman saya di awal perkuliahan IIP …
Ada hal yang baru saya tahu dan pelajari dalam IIP ini, yakni mengenal lebih dekat apa itu ‘Google Class Room’ πŸ˜… .. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar istilah ini, dan di IIP inilah saya belajar apa itu GC πŸ™ˆ.
Kesan pertama saya saat berada di komunitas ini? Huwaahh semua Ibu Ibunya adalah Ibu Ibu yang Hebat ❀❀❀, dan saya berharap bisa lulus dalam kelas matrikulasi ini. Doakan saya yah …